KUTUK PENYELENGGARAAN KONFERENSI ANTI ISLAM
Oleh M.Subhan *
Trik dan strategi untuk menghancurkan agama Islam semakin gempar dan ekstrim diselenggarakan oleh Kongres Anti Islam se-Dunia Di Jerman ( 20 September 2008 ). Kisah demi kisah mengenai penistaan agama sudah mengalami evolusi baik dari se-agama dan luar agama. Era kebrutalan jahiliyah tampaknya sudah muncul ke permukaan peradaban masyarakat dunia. Kalau kita belajar mengenai penistaan agama misalnya gerakan Anti-Islam sudah cukup mendarah daging. Mulai dari Jaman Nabi Muhammad SAW sampai Presiden Bush banyak kejadian yang sama dan berbeda tapi masih sama. Maksudnya adalah kalau jaman Nabi SAW banyak mengaku Nabi palsu, Aliran Baru, dan penghalalan barang haram adalah sama di era ini akan tetapi kemasannnya berbeda. Kalau kita makan jagung dengan dibakar pada waktu era 80-an tetapi sekarang kita makan snack jagung bakar. Itulah perumpamaan bagaimana Islam dihina dan difitna. Kasus demi Kasus menyerang Islam mulai dari Orang, Barang, Perang, dan wacana yang gerang terhadap Islam. Di Jerman, tidak sepantasanya pada Bulan Puasa ini ada kelompok yang mendiskriminasikan dengan slogan “Anti Islam”. Kita tidak pernah menjumpai Orang Islam mengadakan pertemuan seperti misalnya : Anti Kristen atau Budha atau agama lainnya. Sebuah ironi terjadi di Negara-negara maju dan demokratis yang mencela Islam. Tidak sepantasnya dengan edukasi masyarakat yang Inteleketual dan Konstruktif di Negara eropa menyebut Islam sebagai Ancaman. Tidak ada Profesor satu pun yang mengatakan kemana hasil pendidikan antara akademis dan moralis, ini merupakan gambaran bahwa kasus penghinaan Islam terjadi Di Eropa mulai dari Karikatur Nabi,Film Anti-Islam sampai Kongres Anti Islam. Penyebab malapetaka manusia di era globalisasi ini hanya 1 yakni Penyakit Hati ( Iri dan dengki ) yang disambung dengan Politisasi Agama ke arah kehidupan Negara.
Persoalannya adalah Keadilan berpihak kepada sisi akademis ataukah moralis manusia itu sendiri yang berpedoman pada agama itu sendiri. Teori konspirasi agama telah mengakibatkan simbolisasi agama yang dilakonkan oleh tokoh agama sebagai sabuk pengaman bagi Negara untuk menjadi Negara sekulerkah atau sekuler Negara agama. Banyak evaluasi yang harus kita wujudkan misalnya bagaimana memberangus kemiskinan baik miskin secara materi dan fisik maupun miskin mentalitas dan budaya. Itulah mengapa agama ini memberi kehidupan baik untuk memperbaiki manusia dan negaranya dan buruk memisahkan tentang hakikat manusia sebagai Penghancur setan untuk tidak menjadi manusia yang memiliki sifat setan.
Kongres Anti Islam di Jerman menghidupakan lagi manusia setan yang menyebabkan ketidakrukunan sehingga ada peribahasa yang bijaksana mengatakan “ Janganlah Manusia terbujuk pada Otak yang Pintar bahwa sesungguhnya yang pintar adalah Malaikat yang mengusir setan di dalam Otak pintar tetapi kepintaran itu dibentuk oleh setan. Kita bisa membayangkan bahwa sisi malaikat dan sisi setan kadang-kadang memasuki ranah politik Negara dan bahkan dilematis. Inilah saatnya manusia menjadi Malaikat karena jikalau kita berhasil menjadi Malaikat kita mampu hidup toleransi karena memiliki 2 keuntungan yakni power : kekuatan dan kekuasaan. Jika kita tidak menyukai orang melakukan tindakan diluar batas agama janganlah kita merusak agamanya akan tetapi kita memberi kekuatan bagaimana kembali kepada jalan yang benar dengan kekuasaan memberik pekerjaan yang sesuai agama. Itulah jika ada istilah “ Teroris “, Bom Bunuh Diri, Jihad dan lain-lain. Kemudian dilakukan oleh orang beragama entah islam, Kristen, dan sebagainya kita jangan memberi lebel bahha “ Islam “ adalah “ Teroris “. Jikalau ada orang mengatakan seperti itu berarti Otaknya dipengaruhi Setan walaupun orang tersebut Profesor ataukah Presiden. Ini berarti bagaimana kita menyimbolkan bahwa orang yang melakuan tinadakan asusila mengatasnamakan agama berarti orang tersebut tidak beragama atau membentuk agama baru. Ini berarti jika ada “ Simbol” bahwa “Saya” adalah melakukan bom bunuh diri mengatasnamakan agama berarti sikap kita adalah manusia tersebut adalah setan dan membentuk agama baru atau keluar agama.
Tidak sepantasnya di negeri yang maju seperti “ Jerman” mengizinkan Kongres Anti Islam malah seharusnya menangkap dan memberikan pelajaran agama entah siapa pengikut kongres itu ke arah jalan benar. Penulis berprasangka bahwa peserta kongres itu adalah setan-setan yang berbentuk manusia yang sengaja tidak suka terhadap “Islam”, Kristen,Budha dan lain-lain sehingga bisa disimpulkan bahwa Islam dan agama lainnya diciptakan sebagai Pengantar menuju kebenaraan dan mengusir setan serta mendatangkan malaikat.
Penulis mengutuk Tindakan kongres Anti Islam di Jerman dan tindakan tersebut melanggar HAM dan tindakan Kebanci-bancian. Mengapa tidak diadakan pertemuan dialogis dengan Agama Islam ( Lembaga / Institusi ) sehingga penyakit atau problematika umat agama dan masyarakat internasional ini adalah politisasi agama sebagai tindakan merusak hubungan diplomatis dan toleransi umat beragama baik se Negara maupun di luar negeri.
* Penulis adalah Mahasiswa Akhir Jurusan Hubungan Internasional-Universitas Jember
Category
- program (2)
Senin, 22 September 2008
KUTUK PENYELENGGARAAN KONFERENSI ANTI ISLAM
Diposting oleh PELAJAR ISLAM INDONESIA KABUPATEN JEMBER di Senin, September 22, 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar