Oleh M.Subhan*
Hotel Marriot sebuah Hotel high class bagi semua kalangan baik kalangan domestik dan asing sudah menjalar sampai ke Negara berkembang. Siapa sangka sejarah Marriot telah berulang dalam jangka waktu dan tempat yang berbeda. Indonesia merupakan contoh klimaks yang memakan korban akibat bom marriot tahun 2003 silam. Kondisi ini bisa di generalisasikan adanya wabah bom bunuh diri di negeri muslim ini. Teori domino bisa dijadikan konsep alternatif oleh penganut aliran bom bunuh diri. Salah satu ciri penganut ini adalah sasaran dan target yakni warga asing yang disimbolkan sebagai ancaman penganut ini. Sebagai gambaran permainan kartu domino adalah siapa yang menang dahulu akan menjadi pemenang dan siapa yang kalah terakhir akan menjadi korban dan siap mendapatkan hukuman. Terkadang pemain kartu ini bisa 2 orang atau lebih. Kalau menjadi pemenang pertama kali maka itulah sang juara dan apabila menjadi pemenang kedua kemudian pemenang selanjutnya maka itulah dia sebagai keberuntungan ditengah-tengah. Artinya jika kasus Bom Pakistan di Hotel Marriot ( 20 september 2008 ) yang menelan Korban 60 orang tewas dan luka-luka sebanyak 200 orang ( kompas, 21 September 2008 ) ini berarti pemenang kedua menjadi korban juga dan ikut kalah sampai menanggung hukuman dari pelaku yang kalah permainan kartu domino. Sebab dan akibat pembunuhan missal ini bisa dieksplisitkan sebagai serangan perang fajar secara halus tanpa ada pemberitahuan dari pihak musuh. Kisah perang dunia boleh ada status perijinan dahulu kapan Negara bisa menyerang Negara X dan sebaliknya sehingga bisa siap-siap siapa yang berkuasa. Kasus bom Pakistan bisa disejajarkan seperti ini namun kerangka dan kemasan produknya yang berbeda. Penganut ini sudah mendapatkan ijin dari pihak musuh. Kongkritnya adalah misalnya Amerika Serikat menyerang Irak dan Negara-negara di kawasan timur tengah maka ini merupakan simbiosis dari tindakan perlawanan yang mencoba memakai produk modern dengan cara mem¬-blacklist barang atau tempat milik asing atau Amerika Serikat karena mana mungkin menyerang Negara X ( misal Amerika Serikat ) dengan memakai Negara Pakistan atau tentara ke Negara X, maka Alhasil pastilah keok.
Kepentingan kaum minoritas tertindas memakai paham ini dan menjadi penganut yang setia karena fungsi dan otoritas Negara sudah tidak mampu memperhatikan aspirasinya. Keadilan dan perdamaian merupakan kunci sukses penganut paham ini bisa keluar dari lubang hitam yang ditafsir hal tersebut adalah benar dan bijaksana. Semua bisa menganut paham ini untuk melawan ketidakadilan sehingga kasus Bom Jihad atau Bunuh diri adalah masalah “ Keyakinan “. Jika anda Yakin maka semua rintangan bahkan matipun merupakan sebuah hadiah kehidupan yang absolut dan kebahagiaan yang tidak semua orang bisa Yakin kepada Tuhannya. Itulah akar masalah mengapa Bom Pakistan sengaja terlibat dan diadakan.
Intropeksi dan evaluasi Negara-negara besar dan penjajah kaum muslim di negeri muslim merupakan tawaran solusi untuk keluar dari penjajahan fisik dan non fisik di negeri muslim tidak hanya di kawasan timur tengah di belahan dunia lain “ Keadilan” merupakan sikap mentalitas Negara yang harus dimiliki. Sejarah Bom sudah muncul siapa yang menciptakan pertama kali di Era pasca Nabi dan Rasul, penulis menaksir bahwa Negara barat yang telah menciptakan teknologi bom merupakan malapetaka sehingga balik mengancam si pembuat bom itu sendiri. Terkadang Negara-negara maju terpola pada pakaian khas yakni Demokrasi dan HAM. Ada peribahasa “ Jangankan manusia yang membangunkan anak singa, mendekat aja sudah ketakutan apalagi mengambil anak singa tersebut maka Induknya marah dan bahkan memakan manusia tersebut “. Inilah yang harus dijadikan refleksi di Negara muslim seperti Afganistan, Palestina, Irak, Sudan, Indonesia, dsb.
Einstein sebagai penemu kimia dan salah satu hasil karyanya adalah Bom. Dia berteriak “ Aduh celaka, hampir punah Homo Sapiens mungkin 1000 tahun lagi hasil ini ( Bom ) sudah menjadi Abu dan bahkan ini akan menjadi sarang kematian. Celaka saya menemukan, jangan-jangan ada tentara mengambilnya lebih baik saya mati dahuluan daripada menjadi koki masak ini ( Bom ) “. Deskripsi ini menjadi daya tarik bagi Negara nuklir untuk mematikan fungsi nuklir jangan hanya melarang Negara atau orang mendirikan Bom atau Nuklir saja tetapi coba intropeksi seberapa dahsyat saya telah melakukan dosa kepada Negara-negara penduduk muslim baik di negeri muslim maupun non muslim.
Masalah multitafsir masyarakat internasional baik dari agama yang sama ( islam ) dan penganut agama lain. Itu merupakan wacana yang tidak akan diperhatikan tanpa ada pertemuan dialogis dan aksi yang nyata bagi Negara-negara besar seperti Negara X dan sekutu-sekutunya. Sesungguhnya masalah penjajahan menggunkan instrument militer atau kekerasan dengan mengirimkan tentara atau produk budaya yang tidak sesuai moralitas manusia yang alamiah akan menjadi bencana bagi Negara penjajah. Itulah merupakan konsekwensi pepatah bahwa jika kita berbuat baik maka orang akan baik juga dan bahkan lebih sebaliknya jika berbuat jahat maka pastilah 2 pilihan yakni bagaimana saya memperbaiki kejahatan itu menjadi baik dan kalau tidak bisa maka kita wajib perangi baik secara halus ataukah dengan kasar sehingga bisa disimpulkan bahwa Bom Pakistan itu merupakan kejahatan yang bisa baik dari pandangan aliran penganut ini dan jahat dari pandangan yang tidak tahu mengapa saya melakukan bom Pakistan ini apakah Takdirkah atau Pesan dari Langit yang membawa kedamaian dan keadilan. Siapakah yang terlibat dan mengapa terjadi, andalah yang menilai siapa yang benar ? jawabannya adalah Hati Nurani dan Tuhan maha Tahu. Amin.
* Penulis adalah Mahasiswa dan pengamat masalah kasus Bom Pakistan yang sedang belajar di konsentrasi Hubungan Internasional-Universitas Jember, Indonesia.
Category
- program (2)
Selasa, 23 September 2008
REFLEKSI BOM PAKISTAN ( SIAPA YANG TERLIBAT DAN MENGAPA TERJADI )
Diposting oleh PELAJAR ISLAM INDONESIA KABUPATEN JEMBER di Selasa, September 23, 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar